Wanita Keterbelakangan Mental Diperkosa Para Pemuda

Rosa (20), seorang wanita yang mengalami keterbelakangan mental mengaku telah diperkosa oleh segerombolan pemuda yang tidak dikenalnya pada Senin (16/4) malam, setelah dicekoki minuman keras (miras).


Berdasarkan data yang dihimpun, wanita berambut pendek yang saat ini berada di Ruang Persalinan Emergensi Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Salatiga, ditemukan pedagang sayur keliling di pinggir jalan Setro, Dusun Canden, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, Selasa (17/4) sekitar pukul 05.00, dalam keadaan terkapar lemas dan mengalami pendarahan.

Setelah mengetahui identitasnya, warga sekitar pun langsung membawanya ke rumahnya yang berada di Dusun Nglantak, Desa Jembrak, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. Sesampainya disana, pihak keluarga membawa Rosa ke RSUD Salatiga guna pemeriksaan visum.

Rosa yang masih berbaring di ruang tersebut mengatakan, sebelumnya dia memperoleh telepon dari seorang pria yang tidak diketahui identitasnya. Dalam percakapan tersebut, pria yang bersangkutan mengajak bertemu di salah satu ujung desa setempat. Dia mengaku, saat berada di Senjoyo dia beri air miras hingga tidak sadarkan diri.

Saat itulah, dia sudah tidak ingat apapun, termasuk saat dirinya ditemukan warga di pinggir jalan. Terpisah, Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Agus Puryadi menjelaskan, pihaknya sudah menerima berkas pelaporan kasus dugaan pemerkosaan dari Polsek Getasan. "Apabila hasil visum dokter sudah diketahui, kami akan mulai penyelidikan. Ini baru sebatas meminta keterangan korban," Jelas AKP Agus.

Ongkos Naik Bis Senilai Puluhan Juta

Tak pernah terbayang dalam benak Bustani Arifin (45), "ongkos" yang dikeluarkan saat akan pulang ke rumahnya di Kampung Segaran, Kelurahan Tambakaji, Ngaliyan, merupakan yang termahal sepanjang hidupnya.


Bagaimana tidak? Ia harus merelakan tas yang berisi uang Rp 25 juta hilang dibawa kawanan pencuri saat perjalanan naik bis dari Pelabuhan Tanjung Emas ke Jalan Pemuda, Senin (17/4) pagi. Selain uang tunai, cek senilai 15 juta, laptop Toshiba dan pakaian di tas ikut lenyap.

Bustani mengisahkan, kejadian bermula ketika ia yang bekerja di sebuah perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Selatan diminta pulang kerabatnya karena ada keperluan mendesak. "Saya berupaya membeli tiket pesawat namun habis. Akhirnya saya menggunakan kapal laut dan turun di Pelabuhan Tanjung Emas," katanya saat melapor ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polrestabes Semarang.

Bustani pun melanjutkan perjalanannya menaiki sebuah bis kota yang melintas di depan kawasan pelabuhan. "Saya lupa bis itu jurusan mana dan namanya apa. Yang jelas berwarna kuning. Penumpang saat itu penuh dan sesak. Tak berapa lama saya akhirnya dapat duduk di bangku bagian tengah," katanya dengan nada sedikit emosi.

Menurutnya, selama di perjalanan, tas berisi uang tersebut didekapnya. Ketika bis melintas di Jalan Pemuda, tepatnya di depan Gedung Pandanaran, Bustani dicolek seorang perempuan seraya memberitahu bila tas miliknya dibawa kabur oleh seorang pria. "Saat dicolek, saya seperti sadar. Padahal saat itu saya yakin saya tidak sedang tidur," katanya.

Dengan bersusah payah, akhirnya ia berhasil turun dari bis guna mengejar si pelaku. Namun lantaran terdapat beberapa penumpang yang ikut turun, ia kebingungan dan kehilangan jejak pria yang membawa tasnya tersebut. Bustani pun lemas dan hanya bisa bengong di pinggir jalan.

Ia kemudian menelepon anaknya untuk diantarkan ke Mapolrestabes Semarang, setelah sebelumnya menghubungi pihak bank untuk memblokir cek tersebut. "Tak habis pikir kok bisa tas saya diambil tanpa sadar,sepertinya dihipnotis," ucapnya lemas. Hingga kemarin, kasus ini masih diselidiki jajaran Polrestabes Semarang.

Dicerai Istri, Suami Pilih Mati Gantung Diri

Diduga mengalami tekanan batin akibat dicerai istrinya, Supaat, 57, warga Dukuh Sendang Blodro RT 04 RW 02 Desa Sendang, Kecamatan Wonotunggal, Batang, nekat kendat. Korban ditemukan gantung diri di kamar tidurnya, minggu (15/4) sekitar pukul 06.30.


Aksi nekat korban kali pertama diketahui oleh Riyatun alias Wuri, 41, yang juga mantan istrinya, bersama kedua anaknya, Vika Riyani dan Dewi. Ketiganya menjerit histeris saat menemukan korban tergantung di kamar tidur. Saat ngendat, korban menggunakan tali plastik yang diikatkan di usuk kamar tersebut.

Menurut Riyatun, pagi sekitar pukul 06.30 itu, dia bersama kedua anaknya menengok korban yang baru pulang dari Jakarta dalam keadaan sakit. Namun saat membuka pintu kamar, ketiganya menjerit histeris melihat tubuh korban tergantung di kamar dengan lidah menjulur.

"Melihat itu saya bergegas keluar sambil berteriak minta tolong. Saya takut melihat mantan suami saya tergantung. Setelah tetangga berdatangan, saya baru berani masuk kamar. Warga kemudian melaporkan kejadian itu ke Polsek Wonotunggal," tuturnya.

Begitu mendapatkan laporan, Kapolsek Wonotunggal AKP R Sutrisno SH didampingi Kanit Reskrim Aiptu Sugiyanto beserta anggotanya langsung menuju ke TKP. Selanjutnya mayat korban yang tergantung dievakuasi dan diidentifikasi.

"Berdasarkan pemeriksaan dokter Puskesmas Wonotunggal, korban tewas murni karena gantung diri. Selain lidah menjulur, dari kem4lu4nnya keluar cairan," beber AKP R Sutrisno.

Berdasarkan informasi dari para tetangga, Supaat pulang dari merantau dalam keadaan sakit. Hal itu diduga akibat korban mengetahui telah dicerai istrinya tanpa sepengetahuan dirinya, sehingga membuat pikiran korban tambah kalut.

Forum Pengagum Fenomena Alam Astronomi

Sesuai namanya, Jogja Astronomi Club menghimpun para pecinta hal - hal yang berhubungan dengan alam khususnya astronomi. Di tempat ini para pecinta astronomi berkumpul untuk berbagi cerita dan ilmu tentang langit atau fenomena alam yang terjadi. Mereka rutin bertemu tiap minggu malam untuk sekedar meneropong bintang atau benda langit di sore hari.


Jogja Astronomi Club atau disingkat JAC terbentuk pada 2005. Berawal dari seorang yang boleh dibilang maniak dalam hal yang berhubungan dengan astronomi. Adalah Mutoha Arkanuddin, pendiri perkumpulan ini. Kesehariannya bekerja sebagai guru di sebuah SMA swasta di Jogja. Dan di dalam klub ini ia menjabat sebagi Koordinator Utama.


Pada awal berdirinya JAC beranggotakan anak - anak SMA. Semakin lama, berita adanya klub ini menyebar dan anggotanya pun bertambah hingga mahasiswa dan bahkan orang yang sudah bekerja. Namun setelah beberapa tahun berjalan, klub ini sempat vakum sebelum akhirnya aktif lagi dengan anggota berjumlah ratusan.

"Sekitar 150 orang lebih. Didominasi mahasiswa," ungkap Eko Hadi G, Koordinator harian yang juga seorang web programmer and developer lepas. "Kami juga membuat fans page di jejaring sosial facebook dengan nama Jogja Astro Club," terangnya. Tujuan klub ini banyak sekali, yang dijabarkan dalam visi dan misi, antara lain memperkenalkan dan mempopulerkan astronomi dan fenomena alam agar masyarakat tak salah paham.

"Yang paling utama mengubah mindset atau pola pikir masyarakat yang selalu mengaitkan fenomena alam dengan alam gaib. Semua itu ada penjelasan ilmiahnya," ujarnya. Markas besar JAC berlokasi di Jalan Affandi Soropadan No 4 Condongcatur Depok, Sleman yang juga rumah koordinator utama, Mutoha Arkhanuddin.

Di tempat ini terdapat teropong dan peraga astronomi. Bagi yang ingin bergabung, tidak ada syarat yang rumit dan biaya, tapi cukup melakukan registrasi secara online. "Pokoknya nggak ada biaya pendaftaran sebab kami hanya ingin berbagi ilmu dan pengetahuan," jelas Eko Hadi, sambil menambah, bagi yang ingin sekedar meneropong alam semesta bisa langsung datang setiap minggu malam ke tempat yang telah kami sebutkan diatas.

Sejak Kecil Bercita - Cita Ingin Menjadi Guru

Sely Pratiwi, gadis cantik ini punya semangat luar biasa. Penampilannya juga ceria dan murah senyum. Ia juga pengagum tokoh - tokoh dunia, sehingga mempengaruhi dirinya untuk terus belajar meraih prestasi. Untuk itulah, Sely - demikian ia biasa dipanggil - terus berjuang di Kota Pendidikan agar cita - citanya menjadi kenyataan, kendati demikian, saat ditanya prestasi apa yang pernah disandang , Sely hanya tersenyum dan berkata, "Ah malu aku."


Anak yang lahir dari pasangan Silpana dan Nur Hayati ini ternyata menjadi kebanggaan kedua orang tuanya. Semenjak kecil ia sudah mendapatkan banyak prestasi dari berbagai bidang. Anak kedua dari tiga bersaudara tersebut mengatakan, orang tuaku adalah panutanku.

Menurut gadis kelahiran Bangka Belitung ini, kegemaran membaca dilakukan sejak kecil. Sehari - hari ia tak lepas dari buku. Bahkan sampai ia menjadi mahasiswi Universitas Cokroaminoto Yogyakarta pun Sely selalu akrab dengan buku karena buku adalah jendela untuk melihat dunia. "Aku masih semester 4, Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan," ujar gadis berkulit putih ini.

Sejak duduk di kursi Sekolah Dasar Negeri Belitung, ia selalu dapat ranking 1 sampai 3. Artinya, Sely memang tergolong anak pandai. Bahkan ketika masuk Sekolah Menengah Pertama Negeri Tanjung Pandan yang berkatagori sekolah favorit, nilai raportnya selalu bagus.

"Kalau ingin punya prestasi ya harus kerja keras dan pantang menyerah," papar gadis yang hobi nonton film dan membaca ini tanpa bermaksud sombong. Maklum, ia justru menyukai tantangan. Tanpa itu, ia sebaliknya merasa resah.

Sebagai mahasiswi perantau, Sely tak merasa canggung hidup di Yogya meski sejatinya ia lebih mencintai tanah kelahirannya. "Kalau sudah lulus aku punya keinginan jadi guru agar bisa mengabdikan ilmu yang aku dapat di kampus," jelasnya sambil menambahkan profesi seorang guru adalah pekerjaan yang paling berharga dan tak tergantikan oleh pekerjaan lain.

"Jasa seorang guru tak terlupakan sepanjang jaman," pungkas Sely yang pernah menjadi penyiar radio ketika menimba ilmu di sekolah kejuruan.

Kejar - Kejaran Dengan Polisi, Rampok Kehabisan Bensin

Dua perampok dilumpuhkan anggota Polsek Mijen setelah menerobos pagar betis yang sengaja dikerahkan untuk menghadang pelaku, selasa (27/3) petang pukul 18.00 WIB. Peristiwa itu terjadi di perempatan SD Al Azhar, BSB, Mijen. Akibat kasus perampokan itu, korban mengalami luka bacok dan pelaku berhasil merampas ponsel.


Kapolsek Mijen Kompol Hamka Mappaita menceritakan, dua rampok itu Muchamad Fathoni (17) warga Jalan Siliwangi RT 1 RW 2 Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Semarang dan Bagas Aji Perkasa (18) warga jalan Megaraya 3 No 434 RT 6 RW 7, Kelurahan Bringin, Kecamatan Ngaliyan, Semarang, ditangkap atas kesigapan anggotanya.

Penangkapan kedua rampok itu, juga atas bantuan warga untuk menghubungi Kapolsek Hamka ketika terjadi aksi kejahatan. "Seorang warga menelepon saya langsung, kalau ada aksi kejahatan. Saya memang sengaja menyebar nomor ponsel ke masyarakat untuk memudahkan pelaporan," tutur Hamka saat gelar perkara kemarin.

Diceritakan Hamka, Peristiwa terjadi di perempatan SD Al Azhar dengan modus menghadang korban Ida Setyaningsih (19) seorang mahasiswi warga Bandungsari RT 1 RW 4, Kelurahan Tambangan, Kecamatan Mijen. Ketika melewati lokasi kejadian, Ida dibonceng kekasihnya. Kedua pelaku langsung memberhentikan Ida dan mengancam dengan sebilah senjata tajam jenis parang.

Karena Ida menolak, pelaku menyabetkan parang tersebut. Alhasil korban luka bersimbah darah. Dalam kondisi terluka, korban spontan berteriak hingga terdengar warga disekitar lokasi kejadian. Mendengar teriakan korban, warga setempat berbondong - bondong menuju ke tempat kejadian.

Merasa ketakutan dengan banyak warga, kedua rampok secepat kilat menyambar ponsel Nokia 5310 milik korban, lalu kabur menggunakan sepeda motor Honda Mega Pro. "Pelaku merampas paksa ponsel yang sedang digenggam Ida," imbuhnya. Seorang warga memberi info lewat ponsel mengabarkan, ada dua rampok melarikan diri ke arah Mako Polsek Mijen.

Dapat info demikian, Kapolsek Mijen, buru - buru mengerahkan anggotanya untuk menghadang di tengah jalan, tepat di depan kantor. Pelaku semakin mendekat dan terlihat berkendara dengan kencang. Para petugas yang awalnya membuat pagar betis memblokade jalan pun buyar. Pelaku dengan Megapronya melaju tak terkendali.

Karuan saja, polisi secara kilat melakukan pengejaran terhadap pelaku perampokan. "Lama sekali kami mengejar. Sampai mereka menyerah dan digelandang ke Mapolsekta," ungkap Hamka.

Pelaku perampokan, Bagas menjelaskan, ia melakukan perampokan karena tak punya duit. Pria pengangguran ini mendapat ide secara tiba - tiba, sehingga tidak mempersiapkan dengan matang. Bagas mengaku, dirinya tertangkap karena kehabisan bensin hingga membuat sepeda motor yang dikendarainya tak mau melaju lagi.

"Bensin sepeda motor habis saat dikejar polisi. Kita bingung, jadi akhirnya menyerah," ungkapnya. Dari tersangka, petugas Polsek Semarang Barat mengamankan barang bukti berupa senjata tajam parang sepanjang 56 cm, ponsel Nokia 5130 seharga Rp 900 ribu dan motor Honda Megapro hitam H 5402 ZW. Kini, kedua rampok jalanan ini dijebloskan ke sel tahanan untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Pembantu Berusaha Perkosa Majikan Di Kamar Mandi

Dikasih hati malah minta jantung. Kiranya hal itu cocok untuk menggambarkan kelakuan bejat Iryanto alias Gendon (25) warga Sendangadi Mlati Sleman. Betapa tidak, sudah enak dikasih kerja, alih - alih berterima kasih. Ia justru menganiaya dan hendak memperkosa majikan yang mempekerjakannya, Sri Winanti (27) warga Sariharjo  Ngaglik Sleman, Sabtu (14/4) sekitar pukul 08.00.


Beruntung aksi bejat Gendon berhasil digagalkan oleh dua orang pembantu korban lainnya. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kini gendon harus meringkuk di sel tahanan Polsek Ngaglik, Minggu (15/4).

Kapolsek Ngaglik AKP Sugiyanto melalui Kanit Reskrim AKP Gultom menjelaskan, tersangka sebenarnya baru dua hari bekerja di rumah korban. Kala itu, korban yang membutuhkan tenaga sebagai penjaga malam dirumahnya menerima tersangka yang mengaku membutuhkan kerja.

Oleh korban, tersangka ditugasi menjaga rumah dari pukul 18.00 WIB hingga pukul 06.00 WIB. Bermula ketika berjaga malam itulah, Gultom melanjutkan, tersangka sering melihat korban dengan pakaian s3ks1 kala malam hari.

Sejak saat itu, tersangka selalu punya f4nt4si l1ar terhadap korban. Selanjutnya, pagi itu (saat kejadian) tersangka hendak pamit pulang kepada korban. Kemudian tersangka menanyakan keberadaan korban kepada kedua pembantu lainnya yang sedang berada di dapur, yakni Rina dan Mimin.

Lantas Rina mengatakan jika majikannya itu sedang mandi di kamar atas. Merasa ada kesempatan, segera saja menuju lantai dua. "Sesampainya disana, tersangka langsung mel3p4skan baju dan celana, termasuk kandang burung pun dilepasnya," terangnya.

Begitu korban keluar kamar mandi ia terkejut melihat tersangka sudah t3l4nj4ng bulat dengan posisi 4nu-nya juga sudah menjulang tinggi. Tersangka yang sudah dikuasai b1r4h1 langsung saja menyergap majikannya itu. Kemudian memaksa korban melucuti seluruh p4k4ian yang dikenakannya.

Sontak korban pun teriak meminta tolong. Mendapati hal itu, tersangka kalap dan memukul korban sebanyak lima kali pada bagian wajah. Mendengar teriakan majikannya, kedua pembantu yang berada di bawah langsung bergegas naik ke atas. Aksi nekatnya diketahui dua pembantu lainnya.

Tersangka langsung saja melarikan diri dengan kondisi masih t3l4nj4ng. "Saat tersangka kepergok oleh kedua pembantunya yang ada di bawah, ia kemudian lari dengan posisi bu91l," lanjut Gultom. Tak terima dengan perlakuan tersangka, korban kemudian melaporkan hal ini ke Polsek Ngaglik.

Tak lama berselang, jajaran dari Polsek Ngaglik langsung memburu tersangka di rumahnya. Namun di rumah tersangka ia tidak ada. Akhirnya polisi berhasil meringkus tersangka saat sedang berada di rumah temannya di daerah Ngaglik.

Sementara itu tersangka mengaku, semenjak diterima bekerja di rumah korban, setiap malam ia selalu terbayang akan kemolekan tu6uh korban. Bahkan, tak jarang ia selalu membayangkan sedang b3rcum6u dengan majikannya itu.

"Setiap malam saya selalu c0kl1 mas, berulang -ulang. Habisnya majikan saya s3ks1 sih jadi gak kuat nahan si Joni mas," kata tersangka dengan santainya.

Saat ini tersangka mendekam di tahanan Polsek Ngaglik. Atas perbuatannya ia dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang penganiayaan dan pasal 285 KUHP jo 53 tentang percobaan pemerkosaan. "Dengan ancaman hukuman diatas 5 tahun penjara," pungkas Gultom.

Rampas Motor, Pelajar SMA di Massa Warga

Dengan mengendarai Satria FU yang baru dibeli tiga hari lalu, seorang siswa kleas 1 SMA, Ahmad Syafi'i (15), menghadang dan merampas sepeda motor yang dikendarai Punjung Wibowo alias Jojo (20), mahasiswa Udinus.


Perampasan itu dilakukan oleh Ahmad bersama lima teman lainnya di Jalan Kaligarang, Gajahmungkur, Kota Semarang, Kamis (12/4) sekitar pukul 22.00 WIB. Namun aksi yang dilakukan oleh Ahmad Syafi'i dkk itu tak berjalan mulus lantaran sang korban memberikan perlawanan. Ahmad Syafi'i dan seorang temannya, Rizki Faizal (19), keduanya warga Barutikung, Bandarharjo, Semarang Utara itu akhirnya dapat ditangkap massa. Sementara keempat pelaku lain berhasil kabur.

Saat kejadian, Jojo memboncengkan temannya, Angga Rananta (22), mengendarai sepeda motor Jupiter H 6057 WH warna biru. "Saya menyalip sekelompok remaja yang berjumlah enam orang dengan kecepatan sedang yang mengendarai tiga sepeda motor di daerah Sampangan. Tak lama setelah berhasil menyalip, sekelompok pemuda itu mengejar kami," ujar Jojo warga asal Pekalongan ini.

Dia menjelaskan, keenam pemuda itu kemudian menghadang dan menghentikan kendaraannya. Salah seorang diantara pemuda itu, Ahmad Syafi'i, turun menghampiri Jojo. Saat itu Ahmad Syafi'i menuduh Jojo dan Angga telah menyerempet sepeda motornya. "Tuduhan itu tidak benar! Itu bohong, saya sama sekali tidak menyerempetnya," ungkap Jojo. Para pelaku tiba - tiba marah kemudian meminta dompet dan sepeda motor kami.

Diceritakannya, Angga yang dalam posisi membonceng kemudian dipukuli oleh pelaku. Helm Angga dilepas paksa lalu dipukulkan ke wajahnya oleh pelaku. Angga pun lari tunggang langgang meninggalkan Jojo seorang diri yang sedang mempertahankan sepeda motornya, Angga dikejar kemudian dikeroyok oleh para pelaku.

Sementara itu, Jojo yang juga telah babak belur dihajar para pelaku memilih untuk menyerahkan dompet dan sepeda motor kepada pelaku. Saat pelaku hendak kabur, sejumlah warga yang mendengar Jojo dan Angga berteriak minta tolong lantas datang. Warga kemudian berhasil menangkap dua pelaku, sementara empat pelaku lainnya berhasil kabur.

Sementara itu, Ahmad Syafi'i mengatakan bahwa saat itu dia bersama teman - temannya sedang mabuk berat. "Saya tidak tahu kalau sejumlah warga datang dan teman - teman telah kabur. Saat itu saya masih memukuli pemuda tersebut sehingga tidak sadar bila sudah ditinggalkan teman - teman," ujarnya.

Hingga petang kemarin, polisi menyita sepeda motor Satria FU baru yang belum dipasangi plat nomor milik pelaku. Kedua perampas motor itu juga masih diperiksa di Mapolrestabes Semarang.

Butik Pakaian Muslim di Tengah Kampung

Berbekal rasa optimis dan teman banyak, Hendrati Ida Prasetyorini (30), ibu dua orang anak ini berani membuka butik pakaian muslim di tengah - tengah pekampungan yang sulit dilewati kendaraan roda empat. Bahkan, bisa dibilang, usaha yang sudah dirintisnya sejak beberapa bulan lalu laris manis karena produk yang ditawarkan semuanya berkualitas dengan harga yang tidak terlalu mahal.


Butik pakaian muslim yang diberi nama "Violet Hijab Corner" ini terletak di RT 5 RW 7 Jalan Sindoro Cacaban Timur No. 458 Magelang. Pembelinya sebagian besar ibu - ibu muda yang memiliki selera pakaian masa kini. Hal itu setidaknya terlihat saat grand opening yang diselenggarakan Kamis (12/4) lalu. Sebagian besar yang hadir adalah ibu - ibu muda yang senang dengan mode pakaian terkini.

Ida, panggilan akrab Hendrati Ida Prasetyorini, mengatakan, dirinya berani membuka butik di dekat rumahnya karena merasa memiliki teman banyak. "Saya memang memiliki teman banyak, baik kenal biasa maupun lewat facebook dan blackberry massenger," katanya.

Ida mengaku tidak pernah merasa takut jika produk yang dijualnya tidak laku, karena dia selalu punya cara untuk mengembangkan bisnisnya. Antara lain dengan membentuk komunitas hijaber atau komunitas ibu - ibu berjilbab dengan gaya atau style yang modis. "Yang paling efektif adalah berpromosi lewat getok tular (dari mulut ke mulut). Banyak pelanggan yang datang karena diberi tahu oleh temannya, ini benar - benar sangat membantu," jelasnya.

Wanita ayu berkulit sawo matang ini, selain menyediakan produk - produk berkualitas seperti seperti aneka syal pasmina sampai paris, gamis, kaos muslim, cardigan, juga memberikan pelayanan yang lebih kepada pelanggan. "Ini yang saya tawarkan, pelayanan kepada pelanggan," tegasnya.

Menurut ida, saat ini banyak wanita berjilbab yang ingin tampil modis, artinya berjilbab namun tetap mengikuti perkembangan mode terkini. Karenanya, dia pun sering membantu pelanggannya untuk memakai jilbab yang dimodifikasi. "Dengan senang hati saya membantu pelanggan untuk mengenakan jilbab yang dimodifikasi," ujarnya.

Adapun barang yang ada di butiknya buah kongsi bersama adiknya yang ada di Jakarta. "Kelebihannya memang terletak di kualitas dan mode. Tapi ada juga yang dari tanah abang," ungkapnya. Untuk pemilihan mode, ia pasrahkan ke adiknya. "Jadi, adik saya yang berburu dan mencari mode - mode dan tugas saya memasarkan dan mempromosikan. Paling tinggi produk yang saya jual harganya Rp 175 ribu dengan kualitas yang bagus," kata Ida.

Saat membuka usaha ini, Ida mengatakan hanya mengeluarkan modal Rp 35 juta, sudah termasuk merenovasi rumah untuk butik.

Persentase Batas Mengikuti (Following) di Twitter

Twitter adalah jejaring sosial berbasis microblog dengan jumlah karakter tiap tweets maksimal adalah 140 karakter. Dengan menggunakan aplikasi dari client twitter tertentu jumlah maksimal batas tweets dapat ditekan menjadi lebih banyak (lebih dari 140 karakter).

Batasan - batasan lain yang diterapkan oleh jejaring sosial twitter:

1. Batas pesan langsung (DM): Maksimal 250 dalam satu hari.
2. Batas tweets update: Maksimal 1000 kali dalam sehari (diperkecil & dibagi dalam setiap setengah jam 1000 : 48 = 20 tweets per setengah jam).
3. Batas mengganti email: Maksimal 4 kali dalam satu jam.
4. Batas mengikuti (following): 2000 orang (baca keterangan lengkapnya dibawah)

Persentase perhitungan batas mengikuti (following) di Twitter:

Tahap pertama: batas dalam mengikuti seseorang / following people di twitter maksimal adalah 2000 orang, secara teknis, jika kita telah mencapai batas tersebut maka kita tidak akan diijinkan lagi untuk memfollow pengguna twitter lain sebelum jumlah follower akun yang kita miliki mencapai angka 2000.

Tahap kedua: Setelah follower yang kita miliki mencapai angka 2000, kita dapat melanjutkan melakukan aktivitas following people lagi hingga tak terbatas jumlahnya. Namun perlu diketahui, ada aturan main baru pada tahap ini.

Twitter sengaja secara resmi tidak merilis perhitungan batas maksimal dalam following people pada tahap kedua ini. Namun beberapa orang telah berhasil menemukan rumus batas tersebut melalui persentase perhitungan sebagai berikut:

Follower x 10% = F1
F1 + Follower = (Batas mengikuti)

Contoh:


3.736 x 10% = 373,6
373,6 + 3.736 = (4.110)

Belalang Goreng, Makanan Lezat & Bergizi Tinggi

Hidangan unik, tapi lezat dan bergizi tinggi, yaitu belalang goreng, masih saja menjadi makanan kegemaran penduduk Semanu, Gunung Kidul. Barangkali, kegemaran mengkonsumsi belalang goreng itu diawali sejak daerah berbatu kapur di era tahun 60-an itu dicap sebagai daerah miskin. Pada era itu, menurut Sukisman (64), seorang petani yang tinggal di desa Njelog, belalang digunakan sebagai penganan pengganti lauk. "Kalau makan tiwul (makanan pengganti beras dari gaplek) ndak punya lauk berburu ke hutan, cari belalang terus dikropok. Rasanya gurih, nglawuhi," ujar Sukisman seraya tersenyum.


Menurut pengakuan para penjaja belalang mentah di pinggir jalan raya Semanu - Wonosari, penghasilan berjualan hanya cukup untuk menopang beban keluarga sehari - hari. Kalau lagi apes, ujar Mugiyanto (43), berjualan sepanjang hari hanya bisa membawa pulang sekitar Rp 15.000. Padahal untuk menutup kebutuhan hidup sehari - hari, ia harus merogoh kocek minimal Rp 25.000. "Selain untuk membeli keperluan makan sehari - hari, juga untuk beli bensin, kulakan (beli belalang dari pengepul) dan jajan anak sekolah," katanya.


Mugiyanto menyatakan, adakalanya penghasilan jualan belalang dapat menutup kebutuhan makan sehari - hari keluarganya. Tetapi bila musim paceklik belalang, Mugiyanto harus berpikir keras mencari tambahan agar asap dapur tetap terjaga. Tidak mengherankan jika Mugiyanto dan teman - teman seprofesinya acap berburu belalang ke desa - desa tetangga yang jauh dari tempat tinggalnya.

"Tidak sulit menangkapnya, berbekal jaring dan genther (bilah kayu panjang). Berburu belalang sering saya lakukan sampai ke hutan dekat pantai selatan bersama tetangga sedesa berboncengan, biar ngirit," ujarnya.

Kosakata ngirit dalam istilah ekonomi sebenarnya merupakan kata kunci pertahanan biduk rumah tangga. Kata itu pulalah yang menjadikan Mugiyanto dan teman seprofesi pemburu maupun penjual belalang mampu mensiasati gersangnya wilayah perbukitan kapur Gunung Kidul dengan mengandalkan belalang.

Baginya, berjualan belalang tidak memerlukan kepiawian bernegoisasi dengan pemilik modal. Bahkan, ia juga tidak perlu repot - repot menyodorkan proposal pembiayaan ke bank yang perlu agunan. Mugiyanto cukup menyisihkan sekitar Rp 100.000 untuk modal berburu belalang segar di berbagai desa di sekitar Kabupaten Wonosari. Dengan modal kecil itulah Mugiyanto dan para pemburu belalang mengadu peruntungan.

Rusmandi (43), warga Desa Playen, mengaku tetap berusaha mencari belalang goreng, meski telah lama hijrah ke Jakarta. "Kalau sudah tidak tahan pengin makan belalang goreng, kadang minta dikirimin yang sudah jadi dalam kemasan. Coba saja, enak kok," katanya.

Mengenai Robert Doisneau Sang Fotografer Perancis

Robert Doisneau adalah seorang seniman fotografi asal Perancis. Beliau memiliki keunikan tersendiri dalam menampilkan karya - karya seni fotografi yang dibuatnya. Hal itulah yang membuat Robert Doisneau menjadi terkenal.


Apakah keunikan yang dimiliki fotografer yang satu ini? Robert Doisneau menampilkan gambaran sederhana namun memiliki sejuta makna yang ada dalam kehidupan sehari - hari pada seorang manusia.

Seperti mengabadikan momen suasana yang terjadi di jalan raya maupun kejadian sehari - hari yang terkadang terasa lucu dan sayang apabila tidak diabadikan dalam sebuah kenangan berupa gambar atau foto.

Salah satu hasil karya fotografer yang satu ini adalah sebuah adegan sepasang kekasih yang sedang berciuman di tengah hiruk pikuknya sebuah jalan raya di Perancis (lihat gambar diatas).

Pada akhir tahun 1920 Doisneau mendapat pekerjaan sebagai juru gambar (artis huruf) di industri periklanan di Atelier Ullmann (Ullmann Studio), sebuah grafis kreatif studio yang khusus dalam industri farmasi . Di sini ia mengambil kesempatan untuk mengubah karir dengan juga bertindak sebagai asisten kamera di studio dan kemudian menjadi staf fotografer.

Beberapa foto-foto Doisneau paling berkesan diambil setelah perang. Ia kembali ke fotografi freelance dan menjual foto - fotonya untuk bertahan hidup kepada majalah internasional dan lain - lainnya. Dia hanya sebentar bergabung dengan Badan Foto Aliansi namun kemudian bergabung dengan badan Rapho pada tahun 1946 dan tetap bersama mereka sepanjang hidupnya bekerja, meskipun menerima undangan dari Henri Cartier-Bresson untuk bergabung Magnum Photos.


Pada tahun 1936 Doisneau menikah Pierrette Chaumaison, siapa dia? mereka bertemu pada 1934 ketika dia bersepeda melalui sebuah desa dimana ia sedang berlibur. Mereka memiliki dua anak perempuan, Annette (1942) dan Francine (1947). Annette bekerja sebagai asistennya dari tahun 1979 sampai kematiannya.

Beradu Kecepatan Mobil Mainan Rakitan

Lomba balap mobil mainan rakitan bertipe analog bertajuk Line Follower Robo Competition (LFRC) yang digelar di Universitas Kristen Satya Wacana, Selasa (10/4), sungguh menarik. Meski barangkali berlebihan, namun lomba itu seakan melemparkan ingatan kepada film animasi Jepang Tamiya Lets and Go.


Pada pertengahan 1990-an, kartun yang mengetengahkan jagoan mobil mainan bernama Dash Yonkuro, membius anak - anak yang menontonnya lewat tayangan salah satu stasiun televisi swasta. Menggunakan tongkat, Yonkuro Hinomaru bersama anak - anak lainnya mengarahkan mobil mereka berlomba ke garis finish.

Berlebihan memang membandingkan mobil - mobil mainan tamiya dalam film itu dengan mobil mainan di LRFC. Tapi bukankah banyak hal di dunia ini dari sesuatu yang dianggap berlebihan, tidak mungkin. Apalagi subtema dalam lomba tersebut ialah first step to a bright future.

LRFC merupakan perlombaan untuk tingkat SMA atau sederajat dari Jateng - Yogyakarta. Sebanyak 22 tim dari enam sekolah mengikuti ajang tersebut. Setiap tim terdiri dari dua siswa yang merakit mobil mainan.

Babak penyisihan ke-22 mobil berusaha meraih waktu terbaik untuk lolos di 16 besar, diadu satu lawan satu hingga akhirnya satu tim menjadi juara. Di akhir lomba, tim Jarjit 28 dari SMK Negeri 3 Yogyakarta menempati peringkat pertama.

Mobil mainan rakitan yang berkompetisi diwajibkan mengikuti lintasan berkelok dan berbagai rintangan yang disiapkan. Mobil tersebut akan melaju dengan dipandu sensor di bagian bawah untuk mengikuti lintasan dari lakban hitam.

Dua lintasan akan saling bersilangan tepat di bagian tengah. Ini merupakan tantangan agar mobil rakitan tidak salah jalur menyusuri lintasan musuh. Berapa lama mereka mempersiapkan, merakit dan menyempurnakan mobil yang akan dilombakan? "Kami buat mobil robot ini selama tiga minggu," tutur Aji Setiawan, guru pembimbing SMK Pelita Buana, Sewon, Bantul.

Dikatakan, mobil mainan rakitan atau robot itu, mulai dari desain, hingga pembuatannya dilakukan oleh siswa. Dirinya hanya mengarahkan bila ada kesulitan dalam proses tersebut. Para siswa yang merakit mobil mainan robot tersebut, adalah mereka yang mengikuti ekstra kurikuler elektronik teknik digital. "Sekarang di Yogyakarta, ekstra kurikuler robotika semacam ini sedang menjadi tren,".

Aris Setiawan, dari tim The Black Cat yang menempati peringkat ketiga mengatakan, kegiatan merakit mobil robot merupakan hobi yang menyenangkan. "Modalnya itu harus senang," tuturnya.

Wikan Dyah Palupi mahasiwa FTEK yang juga ketua panitia menyatakan, kontes diadakan untuk memasyarakatkan robot di kalangan siswa SMA dan SMK. Sedangkan line follower dipilih karena pembuatannya yang tidak membutuhkan biaya besar.

Pukuli Siswa, Guru Dihajar Warga

Seorang oknum guru (Drs Sugeng Joko Siswoyo) di TP SMK YP Delanggu terbukti melakukan tindakan kekerasan yang tidak wajar kepada salah seorang siswa atau anak didiknya yang bernama Dani Puspito Aji (16). Akibat perbuatannya, korban yang kini duduk di bangku kelas 1 (X) tersebut mengalami luka yang cukup serius pada salah satu matanya.


Beberapa warga yang geram dan tidak terima atas perbuatan Sugeng tidak tinggal diam, mereka mencari Sugeng dan kemudian menghajarnya. Sugeng mengalami luka pada bagian dahinya, kemungkinan karena pukulan dari salah seorang warga.

Peristiwa itu bermula ketika Dani Puspito Aji (16) tidak mengikuti materi praktek komputer, alasannya cukup masuk akal, ruang praktek saat itu penuh dan Dani Puspito Aji (16) tidak mendapatkan tempat sehingga dia memutuskan untuk kembali ke kelasnya. Di waktu yang sama, Dani Puspito Aji (16) yang ketika sejak dari rumahnya sudah tidak enak badan memilih untuk tidur di kelas sembari beristirahat.

"Sejak dari tadi pagi mata Dani mengeluarkan air terus, sepertinya dia sedang tidak sehat," ungkap beberapa temannya.

Ketika Dani sedang tidur itulah, sang guru, Drs Sugeng Joko Siswoyo datang menegur Dani, tanpa basa - basi guru tersebut langsung menyerangnya dengan memukulkan 2 buah buku absen siswa ke mukanya. Setelah mendapatkan pukulan tersebut, Dani mengaku tidak dapat melihat dan merasa sangat pusing.

Mengantisipasi kejadian yang tak diinginkan, teman - teman serta beberapa guru lain membawanya ke Puskesmas Delanggu, namun puskesmas tersebut menyarankan agar Dani dirujuk ke Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Delanggu mengingat lukanya yang cukup parah.

Dani mengatakan bahwa dirinya tidak pernah memiliki masalah dengan guru tersebut sebelumnya. Orang tua korban merasa sakit hati atas kejadian yang menimpa anak kesayangan mereka ini, "Kami sekolahkan Dani disana bukan untuk dipukuli," ujar mereka.

Pihak sekolah sekarang sedang mencoba melakukan mediasi kepada keluarga korban mengenai kasus ini dan berjanji akan menanggung biaya pengobatan seluruhnya.

Tewas Tersengat Listrik Di Kandang Ayam

Kematian akan menghampiri seseorang tanpa diundang, tetapi kematian pasti menghampiri semua orang dan tak akan ada yang dapat menghindarinya, meski menurut kita, terkadang kematian datang disaat yang tidak tepat.


Seperti yang dialami seorang pedagang jamu yang bernama Ratmi (46) warga Semin Wetan RT 03 RW 02 Desa Purworejo Kecamatan / Kabupaten Wonogiri. Dia meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik saat mematikan lampu penerang kandang / kurungan anak ayam di belakang rumahnya Senin (14/4) sekira pukul 06.00 WIB. Korban tersengat listrik pada tangannya.

Kerabat keluarganya, Larman mengemukakan bahwa korban pada saat itu berusaha mematikan lampu (bohlam) yang ada di dalam kandang anak ayam. Karena tidak ada saklarnya, cara mematikannya dengan cara memutar mengendurkan lampunya dari viting.

Diduga tangan korban dalam keadaan basah, sehingga memudahkan aliran listrik menyengat tangannya. Korban meninggal dunia di tempat kejadian. "Korban sebelumnya menyiapkan botol untuk berjualan jamu, lalu cuci tangan, kemudian mematikan lampu," ujar saksi.

Kapolres Wonogiri AKBP Ni Ketut Swastika melalui Kasubag Humas Polres Wonogiri AKP Supriyadi mengemukakan, kejadian tersebut sudah ditangani oleh SPK Polres Wonogiri. "Positif meninggal karena Kesetrum listrik," katanya.

Setelah diperiksa oleh tim medis disaksikan polisi, jenazah akhirnya disemayamkan di rumah duka. Tampak ratusan orang silih berganti melayat, menyalami dan sebagian lainnya menyolatkan. Ratmi meninggalkan dua anak dan seorang suami, bernama Sugeng (46) petani. Jenazah dikebumikan di pemakaman setempat.

Gadis SMP Diperkosa 2 Orang Dalam Semalam

Dua orang pemuda dibekuk Polres Boyolali, karena diduga telah melakukan pencabulan terhadap gadis dibawah umur. Mereka diduga telah mencabuli seorang siswi SMP berinisial Yt (14). Perbuatan bejat itu dilakukan di kamar mandi di dua sekolah yang berbeda. Kapolres Boyolali AKBP Hastho Raharjo melalui Kasubag Humas AKP Margono mengatakan, kedua tersangka yakni YW (20) warga Jemowo, Musuk dan WG (20) warga Keposong, Musuk.


Kronologi kejadian:

1. Tersangka YW menghubungi korban melalui sms atau pesan singkat di handphone.
2. Tersangka YW, mengajak korban untuk jalan - jalan.
3. Korban diajak ke WC sebuah SMP di wilayah Desa Karanganyar. Tersangka YW mencabuli korban dan kemudian meninggalkan korban.
4. Korban menghubungi tersangka WG serta meminta untuk dijemput.
5. Tersangka WG pun berangkat dengan mengendarai sepeda motor Yamaha Mio, untuk menjemput.
6. Tersangka WG mengajak mampir dulu di sebuah SD di Keposong. Kemudian korban dicabuli.

Perbuatan tak senonoh itu dilakukan kedua tersangka di hari yang sama, yakni pada senin (2/4) malam lalu, di dua sekolah berbeda di Kecamatan Musuk. Hanya waktunya yang berbeda. Namun diantara kedua tersangka ini juga mengaku tidak saling kenal. Tersangka YW berhasil dibekuk dirumahnya, Rabu (11/4).

"Kedua tersangka kini masih dimintai keterangannya oleh penyidik unit PPA (Perlindungan Perempuan dan Anak) Polres Boyolali," ujar AKP Margono, Rabu (11/4). Peristiwa tersebut bermula ketika pada senin (2/4) sore, tersangka YW menghubungi korban melalui sms ke HP korban. Tersangka YW mengajak korban untuk jalan - jalan.

Lalu, korban yang juga warga Kecamatan Musuk ini datang menemui tersangka YW, di sebuah tempat. Mereka berdua lalu jalan - jalan dengan berboncengan mengendarai sepeda motor milik tersangka. Hingga sekitar pukul 18.30, korban diajak mampir ke sebuah SMP di wilayah Desa Karanganyar, Musuk.

Di WC atau kamar mandi SMP itulah, tersangka YW mencabuli korban. Korban dipaksa diajak berhubungan 1nt1m. Setelah puas melampiaskan n4f5unya, tersangka mengajak korban jalan - jalan lagi hingga sampai di pasar Kayu Manis, Jatinom, Klaten. Di pasar itulah, korban diturunkan dan ditinggalkan tersangka YW.

Karena sudah malam dan tidak ada angkutan, akhirnya korban menghubungi tersangka WG serta meminta untuk dijemput, WG pun berangkat dengan naik sepeda motor Mio untuk menjemput korban.

Hanya saja, siswi SMP itu tidak langsung diantar pulang. Tetapi oleh tersangka WG diajak mampir dulu di sebuah SD yang ada di Keposong, sekitar pukul 24.00. Di kamar mandi sekolah tersebut, korban giliran dicabuli oleh tersangka WG.

Korban kemudian diajak menginap di mushola sekolah itu karena hari telah larut malam. Baru sekitar pukul 06.00 keesokan harinya, korban diantar ke desanya. Tetapi tidak ke rumah korban, melainkan dititipkan di rumah salah seorang kenalan tersangka WG.

Atas kejadian itu, korban kemudian menceritakan kepada orang tuanya. Tidak terima perilaku terhadap anaknya, orang tua korban kemudian langsung mengadukan kasus tersebut ke Polres Boyolali. "Setelah mendapat laporan, kami langsung bertindak melakukan penyelidikan," kata Margono.

Kedua tersangka akhirnya berhasil ditangkap. Tersangka WG dibekuk petugas beberapa hari lalu. Sedangkan YW ditangkap petugas Rabu (11/4). Kasubag Humas mengatakan, atas perbuatannya itu tersangka dijerat pasal 81 UU No 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara.

Masih Menjadi Bayang - Bayang Ketidakpastian

Harga BBM yang tadinya akan dinaikkan pada tanggal 1 April, mengalami penundaan. Meskipun ditunda kenaikannya, namun tidak sedikit penjual yang menaikkan harga barang - barang atas inisiatif sendiri. Prof Dr Insukindro MA, dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, berpendapat bahwa kenaikan ini lebih disebabkan karena faktor psikologis masyarakat.


Tadinya masyarakat beranggapan kalau tanggal 1 April harga - harga akan meningkat, sedangkan penghasilan mereka tetap. Ternyata pada tanggal tersebut BBM tidak jadi naik. Setelah tanggal 1 April, harga tidak turun karena ketakutan masyarakat akan ketidakpastian yang akan datang. "Logikanya seharusnya turun tapi yang terjadi justru sebaliknya", katanya.

Dampak penundaan BBM hanya terjadi pada lingkup mikro saja, sedangkan pada lingkup makro penundaan tersebut tidak membawa dampak yang berarti. "Saya kira penundaan BBM ini tidak menimbulkan masalah pada tingkat makro. Dampaknya hanya terjadi di mikro saja," ungkapnya.

Menurutnya, ada cara lain yang bisa dilakukan untuk meningkatkan penerimaan APBN selain menaikkan harga BBM. Salah satunya ialah penghematan biaya transaksi atas kegiatan - kegiatan pemerintah. Jika biaya transaksi bisa diminimalkan, hal ini akan menambah penerimaan yang tidak sedikit untuk APBN. "Misalnya saja, untuk perjalanan - perjalanan dinas, tiket pesawatnya tidak usah yang VIP, tapi yang dibawahnya. Lalu untuk tempat penginapan juga yang standar - standar saja."

"Dulu Indonesia memang menjadi eksportir minyak karena produksi minyak kita tinggi, sedangkan konsumsinya rendah. Sekarang menjadi importir karena produksi minyak kita rendah dan konsumsinya meningkat," ungkapnya. Dia juga menambahkan bahwa kualitas minyak Indonesia cukup baik. Minyak yang baik ini diekspor lalu minyak yang diimpor adalah minyak yang kualitasnya lebih rendah dari minyak Indonesia.

Insukindro berpendapat, keputusan apapun yang diambil pemerintah, komunikasi sangat diperlukan. Pemerintah boleh saja menaikkan BBM asalkan ada kejelasan informasi mengenai alasan - alasan yang dilontarkan. Komunikasi memang tidak efisien, banyak biaya yang harus dikeluarkan, tapi itu harus dilakukan agar masyarakat tidak menduga - duga dan berada dalam kondisi ketidakpastian.

Selain itu, menurut dia, penyebab kemiskinan yang paling pokok di Indonesia yang perlu menjadi perhatian pemerintah ialah lapangan kerja, kesempatan usaha dan pemerataan. Kemiskinan di desa terjadi karena ketidakmerataan pembangunan. Pemerintah terlalu fokus pada pembangunan infrastruktur di kota saja tapi tidak memperhatikan pembangunan infrastruksur di desa.

Preman Masuk Bus, Sikat Uang Rp 7 Juta Milik Penumpang

Puluhan penumpang membelokkan paksa bus PO Gaya Putra Transport AD 1599 AF ke Mapolrestabes Semarang, Jalan Dr Sutomo, Selasa (10/4) sekitar pukul 12.00.

Polisi menginterogasi para penumpang bus  PO Gaya Putra Transport   
Tindakan nekat para penumpang itu dipicu raibnya uang Rp 7 juta dan handphone milik Agus Suparno (39), penumpang asal Karangpelem, Klaten. Penyebab lainnya, para penumpang juga merasa ditekan sekelompok preman yang memaksa membeli tiket dengan harga tinggi saat berada di tempat pemberangkatan di Pulo Gadung, Jakarta, Senin (9/4) malam.

Agus mengisahkan, bus jurusan Jakarta - Semarang - Solo itu berangkat dari Pulo Gadung sekitar pukul 21.00. Saat itu jumlah penumpang ada sekitar 25 orang. "Saya duduk di bangku tengah kemudian tertidur. Sekitar pukul 02.00, saat itu bus kira - kira sampai Cirebon, saya terbangun dan mendapati dompet dan handphone saya raib," ujar Agus, yang sehari - hari berjualan parabotan rumah tangga di Pekanbaru, Riau, itu.

Agus lalu memberi tahu penumpang lain yang berada di sekitarnya. Sejumlah penumpang lain ternyata juga mengeluhkan bila tas - tas mereka dibongkar dan diacak - acak oleh sekelompok pria yang diduga preman di dalam bus tersebut. Namun, menurut Agus, para penumpang lain mengaku ketakutan dan tak bisa berbuat banyak karena para pelakunya sekelompok pria berbadan kekar.

"Saya bingung karena dompet itu berisi uang Rp 7 juta, yang rencananya akan saya gunakan untuk biaya pengobatan bapak yang sedang dirawat di rumah sakit. Padahal, keperluan saya mudik dari Riau ke Solo hanya untuk mengantar uang itu," ujarnya dengan nada lemas.

Dia menjelaskan, setelah masuk ke wilayah Jateng, tepatnya Kabupaten Brebes, sejumlah penumpang baru berani protes kepada sopir bus, Sujud (43), dan kondekturnya, Widodo (46). Mereka meminta bus berhenti di kantor polisi terdekat, namun permintaan itu tak dipenuhi oleh sang sopir. Ketika bus masuk ke Kota Semarang, para penumpang akhirnya memaksa sopir untuk mengarahkan bus ke Mapolda Jateng, Jalan Pahlawan Semarang.

Namun, petugas dari Polda Jateng menyarankan para penumpang untuk membawa bus ke Mapolrestabes Semarang. Sesampainya di Mapolrestabes, seluruh penumpang diperiksa satu - persatu oleh petugas. Tas dan barang - barang para penumpang digeledah, namun tak membuahkan hasil.

Penumpang lain, Nedy Sugianto (25) mengatakan, para pelaku pencurian itu diduga bekerja sama dengan sopir dan kondektur bus. Menurutnya, dugaan itu muncul saat para kru bus membiarkan sekelompok preman masuk ke dalam bus saat berada di terminal Pulo Gadung.

"Para preman yang masuk ke dalam bus itu berbadan kekar. Tas saya juga diacak - acak, namun tak ada barang yang hilang. Kami heran kenapa mereka bisa seenaknya mondar - mandir di dalam bus saat bus sudah berangkat meninggalkan Jakarta," ujar warga asal Sampit, Kalimantan, itu.

Sementara itu, sopir bus, Sujud, mengaku tidak tahu menahu perihal raibnya uang penumpang dan keberadaan sekelompok pria yang diduga preman tersebut. "Orang yang diduga preman tersebut mungkin bisa saja calo," ujar Sujud. Lantaran tak menemukan cukup bukti atas dugaan kasus pencurian itu, polisi akhirnya memperbolehkan bus itu melanjutkan perjalanan.

ABG Bawa Sabu Di Dalam Charger Handphone

Sindikat narkoba memperalat anak baru gede, OP, warga Wonokerso, Kecamatan Tembarak, Kabupaten Temanggung. Bocah berusia 15 tahun itu disuruh mengantar charger handphone ke seseorang di Bandungan, Kabupaten Semarang. Padahal, isi charger itu narkoba jenis sabu - sabu.


Ditemui di Mapolres Semarang (Ungaran), senin (9/4), OP mengatakan, Senin pekan lalu, ia diminta oleh tetangganya, Nurkholis, untuk mengantarkan charger handphone kepada seseorang di Bandungan. OP menerima pekerjaan tersebut karena imbalan yang ditawarkan Nurkholis lumayan besar, yakni Rp. 150.000.

"Saya tidak tahu kalau isinya sabu - sabu. Saya hanya disuruh mengantarkan barang tersebut ke seseorang di Bandungan. Saya dijanjikan diberi imbalan RP. 150.000. Tapi saya baru diberi Rp. 10.000, katanya, sisanya dibayar setelah barangnya sampai ke pemesan," kata anak jebolan SMP itu.

OP berangkat ke Bandungan naik sepeda motor. Anak baru gede itu atau ABG itu dihentikan polisi berpakaian preman di Jalan Raya Sumowono - Boja atau tepatnya di depan Indomaret, Sumowono. Saat menggeledah OP, polisi menemukan sabu - sabu seberat 0,75 gram di charger. OP kemudian digelandang ke Polres Semarang.

Kasat Narkoba Polres Semarang, AKP Dwi Margono mengatakan, berdasar keterangan OP, polisi kemudian membekuk Nurkholis (40). Saat diperiksa, Nurkholis mengaku mendapatkan barang tersebut dari Taat Yulianto (35), warga Jetis, Gambasan, Selopanjang, Temanggung. Polisi pun langsung bergerak menangkap Taat dirumahnya.

"Dari Nurkholis kami menyita barang bukti sabu - sabu seberat 0,25 gram, alat penghisap dan pipet kaca untuk membakar sabu," katanya. Margono mengatakan, sebelumnya polisi sudah mendapat informasi tentang peredaran sabu - sabu di wilayah Kabupaten Semarang yang dipasok dari Temanggung.

Menurutnya, polisi sudah mengintai orang - orang yang dicurigai sebagai pemasok narkoba berbentuk kristal (mirip gula batu) itu. Polisi juga mendapat informasi bahwa peredaran narkoba itu melibatkan anak dibawah umur.

"Kami mendapat informasi kalau kurir yang disuruh mengantar sabu masih anak - anak. Setelah mendapatkan ciri - ciri si kurir tersebut, kami melakukan pengintaian selama dua minggu dan akhirnya kasusnya terungkap," ujarnya.

Menantang Maut Di Atas Tingginya Jembatan Bambu

Keuntungannya tidak sebesar dengan resiko yang mengintai jiwanya. Namun semua hampir dilakukan selama 40 tahun lantaran tidak ada jalan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Tidak tahu sampai kapan profesi membahayakan itu akan dipertahankannya.


Itulah yang dilakukan Paidi (64) warga Dusun Putu RT 02 Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Bantul. Lelaki legam itu bukan penderes kebanyakan. Ia menghubungkan pohon kelapa satu dengan lainnya menggunakan jembatan bambu. Semua dilakukan untuk menghemat waktu. Dengan pemasangan bambu penghubung tersebut penghematan waktu hingga 15 menit.

Dengan berjalan diatas tiga bambu yang terhubung di empat pohon kelapa, keselamatan jiwanya dipertaruhkan. Semua dilakukan dengan tujuan satu, demi sesuap nasi. Paidi kepada wartawan, senin (9/4) mengatakan sebenarnya dirinya berkeinginan punya pekerjaan lain tanpa resiko. Namun lelaki bercucu dua ini sadar akan usianya.

Kini setiap hari, suami juminten ini harus rela dua kali naik turun pohon kelapa untuk mengambil nira. Pekerjaan penuh resiko ini ia tempuh sejak tahun 1972. Ia cukup memanjat sekali dan tinggal berjalan lewat lonjoran bambu ke pohon lainnya. Caranya dengan meniti batangan bambu dengan seutas tampar sebagai pegangan.

Lelaki itu seolah berjalan diatas maut. "Bagaimana lagi, hanya ini yang bisa kami lakukan," jelasnya. Meski istrinya sempat melarang, namun hal itu tidak mampu meluluhkan semangatnya. Dijelaskan, dalam sehari hanya mampu mendulang untung Rp 20 ribu. "Sehari hanya menghasilkan dua kilogram gula, ketika dijual ke pasar hanya mengantongi uang Rp. 20 ribu".

Namun itu pun tidak lantas membuat Paidi luluh semangatnya. Dengan segala kekurangannya, lelaki renta itu terus berupaya kerja. Menurutnya, melihat kerjanya itu memang sering menimbulkan kekhawatiran. "Saya harus hati - hati karena ini sumber rezeki saya," ujarnya.

Kini, lelaki yang sebelumnya bekerja di PG Madukismo tersebut selepas Subuh segera memanjat pohon kelapa di belakang rumahnya. Sedangkan sore hari dilakukan pukul 15.00 WIB. Meskipun sudah renta, namun tidak ada tanda sebagai lelaki lemah. Ia harus melintas di atas bambu setinggi sekitar 25 meter.